TETAPLAH SETIA MENGIKUT YESUS
Bersyukurlah kita semua kepada Allah di dalam Kristus, yang telah menuntun kita memasuki pekan yang baru ini, yang sekaligus merupakan Minggu Pra Paskah Kristus I (Minggu Sengsara I). Perenungan terhadap nas Alkitab, Markus 8 : 31 – 38, kiranya menuntun kita dalam menghayati arti dan makna penderitaan Kristus, serta komitmen iman kita untuk setia mengikut Yesus apa pun konsekuensinya.
Markus 8 : 31 – 38, berkaitan dengan bagian sebelumnyai yakni Markus 8 : 27 – 30 yang berisi pengakuan Petrus tentang Yesus sebagai Mesias. Menanggapi pengakuan itulah, Yesus kemudian mengajarkan para murid tentang jalan yang harus ditempuh-Nya sebagai Mesias yaitu jalan penderitaan, dan dilanjutkan dengan ajaran tentang berbagai konsekuensi dan syarat menjadi pengikut Yesus ( 8:31-38). Yesus mengajarkan bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan. “Anak manusia” (dalam hal ini diri-Nya sendiri) harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli taurat lalu dibunuh dan bangkit sesudah hari yang ketiga” (ay. 31). Hal ini bukan terjadi secara kebetulan, kata “harus” menyiratkan bahwa jauh sebelumnya Allah telah menetapkan hal tersebut, dan telah dinubuatkan sejak lama oleh para nabi (band. Yes. 53:1-12).
Pernyataan Tuhan Yesus tentang Anak Manusia yang harus menderita, ternyata mengejutkan para murid, sebagaimana sikap yang ditunjukkan Petrus dalam merespon pernyataan Yesus tersebut. Padahal pada perikop sebelumnya, Petrus adalah orang pertama yang mengatakan bahwa “Yesus adalah Mesias”, ketika Yesus bertanya kepada para murid tentang siapa DiriNya menurut mereka (ay. 30). Ketika Petrus berkata bahwa Yesus adalah Mesias, seharusnya menunjukkan bahwa ia sungguh mengenal Yesus, tepatnya, Yesus sebagai Mesias, Raja yang diurapi. Akan tetapi, pada ayat 32 memperlihatkan bahwa Petrus sebenarnya belum mengenal Yesus secara baik dan benar. Pengertian Petrus tentang Yesus sebagai Mesias, masih sama seperti kebanyakan orang Yahudi, yakni Mesias dalam arti Tokoh politik. Oleh karena itu, ketika Yesus mengajarkan tentang Anak Manusia yang harus menderita, Petrus menyatakan sikap protesnya. Dengan marah, Yesus memberi respon balik kepada Petrus dengan berkata “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”. Pada satu sisi, Yesus marah kepada Petrus karena sepertinya Petrus hendak menghalangi Yesus melakukan misi-Nya. Dan pada sisi yang lain, Petrus berusaha mengarahkan Yesus untuk bertindak seperti konsep berpikirnya (Mesias=Tokoh politik, pahlawan yang gagah), sementara Yesus bertindak sesuai konsep Allah (Mesias yang menderita, mati).
Yesus kemudian melanjutkan pengajaranNya tentang syarat mengikut Dia (ay. 34), “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”. Menyangkal Diri: melupakan dan meninggalkan kepentingan diri sendiri, tidak egois, tidak mengikuti kemauan diri sendiri. Memikul Salibnya: “Memikul” berarti membawa, mengangkat, atau memanggul, tidak melepaskan atau menganggap remeh tanggungjawab yang dipercayakan. “Salib” merupakan cara hukuman mati yang dianggap paling hina. Seseorang akan mengalami penderitaan yang amat sangat hebat (tidak hanya fisik tapi juga psikis) jika dia dihukum mati dengan cara disalibkan. Dengan demikian, mengikut Yesus sebagai murid, berarti harus benar-benar siap (diri dan hati) untuk menderita. Salib melambangkan beban berat yang harus ditanggung dan dipikul oleh pengikut Kristus; penderitaan (1 Ptr. 2:21), kematian (Kis. 10:39), kehinaan (Ibr. 12:2), cemoohan (Mat. 27:39), penolakan (1 Ptr. 2:4). Mengikut Dia; yang dimaksudkan adalah tetap secara terus-menerus, meneladani serta setia dan taat kepada Yesus.
Yesus mengakhiri pengajaranNya pada bagian ini tentang konsekuensi dan upah mengikut Dia (ay. 35 – 38). Bagian ini diawali dengan pernyataan Yesus (ay. 35): “Karena siapa yang ingin menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil ia akan menyelamatkannya”. Ungkapan ini mengisyaratkan tentang hidup sejati, yang bersifat abadi/kekal. Barang siapa yang berkorban bahkan mempertaruhkan nyawanya demi Kristus dan ajaran-Nya maka dia akan mendapat hidup sejati yang kekal. Namun, bagaimanapun hidup di dunia ada batasnya, sehingga dalam ucapan Yesus selanjutnya pada ayat 36-37 para murid dan orang banyak diperhadapkan lagi dengan pertanyaan, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Pertanyaan-pertanyaan ini lebih bersifat retoris. Maksud dan jawabannya pun sudah jelas, yaitu : “Tidak ada!”. Sebab ketika manusia mati, maka semua yang dimilikinya, tidak akan mampu menggantikan nyawanya itu.
Selanjutnya, Ayat 38; bagi orang yang malu dan menyangkal Yesus, maka Yesus pun tidak akan mengakui mereka. Jadi jelas bahwa Yesus menjanjikan kehidupan kekal kepada mereka yang dengan rela hati mau melepaskan kehidupan duniawi. Ia sendiri memberikan teladan, dengan menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan manusia dan dunia. Dengan demikian bagi siapa yang malu dan menyangkal Yesus berarti ia menolak Tuhan dan tidak mengasihi Tuhan, maka Tuhan pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya” (ay.38b). Karena itu, hal yang yang mau diingatkan Tuhan Yesus pula dalam mengikuti Dia, yakni agar kita tidak merasa malu hidup sebagai pengikut-Nya dan menyaksikan-Nya di hadapan siapa saja bahwa Dialah Tuhan dan Juruselamat dunia.
Hal mengikut Yesus adalah keputusan iman untuk memilih jalan yang dilalui oleh Yesus, jalan penderitaan, jalan salib. Ketaatan dan kesetiaan Yesus menempuh jalan salib, menjadi keteladanan yang berarti sekaligus meneguhkan langkah-langkah beriman kita dalam kehidupan sesehari yang sering diwarnai berbagai tantangan dan pergumulan. Jalan salib, bukan penderitaan dan kehinaan tanpa arti dan makna, justru menuju pada kemenangan dan kemuliaan bagi yang tetap bertekun, taat dan setia. Jalan salib, mengajarkan kita betapa besar kasih Allah bagi manusia dan dunia ini. Oleh karena itu, mengikut Yesus mengartikan pula bahwa kita tetap tinggal dan memiliki kasih Allah dalam hidup ini, betatapun beratnya jalan yang sementara kita lalui. Tetaplah mengikut Yesus, karena Dia adalah Jalan, Kebenaran dan kehidupan.
Selamat Memaknai Minggu-minggu Pra Paskah Kristus, IA senantiasa memberkati kita semua… Amin!
Oleh, Pdt Ny. Elvin M.Alfons
Leave a Reply